Saya yakin siapapun pernah ikut yang namanya arisan. Apakah itu arisan di kelas sewaktu kita sekolah, arisan di tempat kerja, arisan di lingkungan sekitar, arisan alumni sekolah, atau arisan keluarga.
Saya bukan akan mengulas mengenai masalah arisan, tapi tentang pembayaran rutin. Dan arisan adalah salah satu pengeluaran rutin yang nominalnya tetap, tanggalnya juga (seharusnya) tetap, walaupun pada kenyataannya bisa berubah tergantung kesibukan koordinator arisan.
Kalau biasanya koordinator arisan mengumpulkan uang arisan secara tunai di tanggal tertentu, biasanya sih di tanggal muda setelah gajian, saya yakin semua peserta arisan akan membayar dengan lancar. Toh sudah disiapkan dananya untuk itu.
Tapi jika koordinator arisan itu sakit misalnya, dan baru datang menagih uang arisan satu atau dua minggu dari jadwal normalnya, berapa persen kira-kira yang bisa tetap bayar dan berapa yang jadi kesulitan untuk bayar?
Iseng-iseng saya ajukan pertanyaan seperti itu di depan ibu-ibu peserta arisan, eh salah peserta seminar maksudnya.
“Bu, kalau ibu ikut arisan tiap tanggal 5. Dan yang biasa nagih pasti datang tiap tanggal 5. Ibu sudah siapkan uangnya?” kompak mereka menjawab “ya iya lah”.
“Nah sekarang, kalau yang biasa nagih arisan tiap tanggal 5 terus sakit dan baru datang tanggal 15. Kira-kira uang buat bayar arisan masih ada nggak?” Sebagian besar menjawab “belum tentu” sambil tersenyum. Maklum lah, arisan kan tidak seperti bayar hutang bank yang konsekuensinya berat, telat sesekali atau nunggak masih bisa ditolerir.
Di sini jelas sekali, ternyata yang menyebabkan kita terkadang kesulitan untuk membiayai pengeluaran, bahkan yang rutin sekalipun, bukan karena “kekurangan uang”. Tapi lebih karena “uangnya sudah terlanjur terpakai”.
Dan ini bukan hanya terjadi pada pengeluaran seperti arisan lho, hal ini juga bahkan terjadi pada pengeluaran yang seharusnya rutin dan sangat penting seperti pembayaran cicilan bank. Direktur sebuah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) pernah bercerita bahwa ia harus menugaskan anak buahnya untuk “menjemput” cicilan dari nasabah peminjam dana itu dengan cara berkeliling setiap hari ke pasar-pasar.
Setiap hari? tanya saya. Bukankah cicilan bank itu biasanya bulanan?
Memang betul cicilan seharusnya sih dibayar bulanan, tapi masalahnya rata-rata nasabah peminjam dana adalah para pegadang pasar. Dan mereka perputaran uangnya harian. Dapat uang hari ini, dialokasikan untuk rumah tangga, dan belanja lagi untuk keesokan harinya, begitu setiap hari. Mereka sendiri yang diminta untuk ditagih setiap hari. Jika tidak, sulit bagi mereka untuk membayar cicilan hutangnya. Kalau kami terlambat menjemput dananya, uang mereka sudah keburu habis dipakai belanja lagi. Paling-paling cuma ada uang untuk dapur di kantongnya, Kalau yang itu sulit kita pinta.
Walaupun dagangan mereka laris manis di hari itu, tapi kalau petugas kami tidak menjemput dananya, jangan harap mereka bisa bayar dobel esoknya. Jadi bukan karena mereka tidak mampu bayar hutangnya, tapi pengelolaan keuangannya memang seperti itu.
Dari kasus BPR itu, sekali lagi bisa disimpulkan, yang menjadi masalah seringkali bukan “kekurangan uang” tapi lebih karena “uangnya sudah terlanjur terpakai”.
Maka besarnya angka penghasilan saja tidak menjamin, perlu pengaturan prioritas pengeluaran agar keuangan lebih terkontrol dengan baik.
