<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahmad Gozali</title>
	<atom:link href="http://ahmadgozali.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahmadgozali.com</link>
	<description>Wealth Optimizer</description>
	<lastBuildDate>Fri, 11 May 2012 11:50:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Tipe Manusia Berdasarkan Horizon Keuangannya</title>
		<link>http://ahmadgozali.com/tipe-manusia-berdasarkan-horizon-keuangannya/</link>
		<comments>http://ahmadgozali.com/tipe-manusia-berdasarkan-horizon-keuangannya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 11:50:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gozali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cashflow]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadgozali.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[  Dilihat dari horizonnya dalam mengelola keuangan, kita bisa golongkan manusia menjadi 3 kategori. Yaitu mereka yang hidupnya untuk masa lalu, mereka yang hidup untuk masa kini, dan mereka yang hidup untuk masa depan. Orang yang hidupnya untuk masa lalu adalah mereka yang kerjanya sekarang, dapat gajinya sekarang, tapi gajinya tersebut sebagian besar habis untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
 </p>
<p>Dilihat dari horizonnya dalam mengelola keuangan, kita bisa golongkan manusia menjadi 3 kategori. Yaitu mereka yang hidupnya untuk masa lalu, mereka yang hidup untuk masa kini, dan mereka yang hidup untuk masa depan.
</p>
<p>Orang yang hidupnya untuk masa lalu adalah mereka yang kerjanya sekarang, dapat gajinya sekarang, tapi gajinya tersebut sebagian besar habis untuk membayar pengeluarannya di masa lalu (hutang). Ia menggadaikan penghasilannya di masa depan untuk memenuhi kebutuhannya sekarang, karena penghasilannya yang sekarang ini sudah dihabiskannya di masa lalu sebelum penghasilan itu sendiri diterima. Orang seperti ini selalu menengok ke belakang dan sulit memandang ke depan karena dikejar-kejar oleh bayangan hutangnya sendiri.
</p>
<p>Orang yang hidupnya untuk masa kini, adalah mereka yang bekerja sekarang, mendapatkan hasil sekarang, dan dihabiskan sekarang juga. Gajinya bulan ini habis untuk keperluannya bulan ini juga. Gajinya bulan depan, habis untuk keperluan bulan itu juga. Pekerjaan utama orang seperti ini adalah menunggu dari tanggal gajian ke tanggal gajian berikutnya. Motivasinya adalah mencari uang secepat dan sebesar mungkin agar bisa sesegera mungkin dan sebanyak mungkin belanja.
</p>
<p>Jadilah kita orang yang hidupnya untuk masa depan. Yaitu bekerja sekarang, dan mengalokasikan sebagian penghasilan yang kita terima sekarang untuk keperluan di masa depan. Pandangannya jauh ke depan, hanya sesekali saja menengok spion dan toleh kanan-kiri untuk evaluasi. Visioner dengan kondisi keuangannya di masa depan, untuk pendidikan anak-anak, untuk pensiunnya dan keperluan lainnya di masa depan sudah direncanakan dan disiapkan sedini mungkin. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadgozali.com/tipe-manusia-berdasarkan-horizon-keuangannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Sisakan Penghasilan, Habiskan Saja!</title>
		<link>http://ahmadgozali.com/jangan-sisakan-penghasilan-habiskan-saja/</link>
		<comments>http://ahmadgozali.com/jangan-sisakan-penghasilan-habiskan-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 11:44:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gozali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cashflow]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadgozali.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang bertanya pada saya, &#8220;bagaimana caranya agar bisa menyisakan uang? soalnya banyak sekali kebutuhan ini dan itu, jadinya susah sekali untuk bisa menabung&#8221;. Ada lagi yang mengeluh &#8220;Udah kita hitung di atas kertas, akhir bulan bisa ada sisa sekian ratus ribu buat ditabung. Eh pas akhir bulan, gak ada sisanya tuh. Malah kadang kurang&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak yang bertanya pada saya, &#8220;bagaimana caranya agar bisa menyisakan uang? soalnya banyak sekali kebutuhan ini dan itu, jadinya susah sekali untuk bisa menabung&#8221;.</p>
<p>Ada lagi yang mengeluh &#8220;Udah kita hitung di atas kertas, akhir bulan bisa ada sisa sekian ratus ribu buat ditabung. Eh pas akhir bulan, gak ada sisanya tuh. Malah kadang kurang&#8221;</p>
<p>&#8220;Uangnya udah dibagi-bagi per amplop, termasuk untuk tabungan. Tapi kok ya adaaaa aja kebutuhan ini dan itu. Jadinya gak nabung lagi deh&#8221; Begitu pengakuan sebagian orang lain yang bertanya-tanya bagaimana cara yang efektif agar bisa menyisakan uang untuk ditabung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kalau menurut saya sih, tidak usah mencari cara untuk menyisakan uang, karena uang memang sulit untuk bersisa. Uang itu seperti air, mudah menguap, mudah mengalir.</p>
<p>Uang memang diciptakan untuk dipakai, untuk dihabiskan, bukan untuk disisakan. Itulah sebabnya uang sulit sekali untuk bersisa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka sebagai perencana keuangan, saya TIDAK menyarankan untuk menyisakan uang untuk kebutuhan masa depan. Sekali lagi, JANGAN sisakan uang.</p>
<p>Saya ulang lagi ya&#8230; JANGAN sisakan uang untuk kebutuhan masa depan. Setiap Anda gajian, langsung HABISKAN saja.</p>
<p>Jangan cari cara untuk menyisakan uang, karena uang diciptakan memang untuk dihabiskan, bukan untuk disisakan. Yang seharusnya kita lakukan adalah, mencari cara untuk MENGHABISKAN uang kita dengan benar. Bukan menyisakannya.</p>
<p>Bgaimana cara menghabiskan uang dengan benar? Setiap gajian, langsung bayar zakat, bayar hutang &amp; saving. Sisanya, habiskan sesuka hati Anda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lho, kenapa dihabiskan? Tidak disisakan?</p>
<p>Karena menurut saya, yang paling menyakitkan yang berhubungan dengan uang adalah ketika kita punya uang, tapi tidak boleh dipakai. Sakiiiiiiitttt rasanya…..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lebih menyakitkan dari kondisi bokek, lebih menyakitkan dari gaji yang cuma numpang lewat karena langsung bayar hutang kesana kemari. Karena kalau memang tidak ada uang di tangan, mau apa lagi… selesai masalah pada saat itu. Tapi kalau ada uangnya di dalam dompet atau dalam rekening kita, tapi tidak boleh dipakai karena masih harus membayar tagihan ini dan itu, akan lebih sakit rasanya. Liat barang oke, diskon pula, duit ada di dompet atau rekening. Tapi gak bisa dipake karen jatah arisan, atau duit sekolah anak, atau buat bayar listrik, dll.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bayangkan kalau Anda sekarang sedang belanja. Jatah shopping sudah dihabiskan, tapi duit buat saving masih ada di dompet. Terus liat barang bagus&#8230; beli apa nggak?</p>
<p>Beli ato nggak, pasti nyesel deh. Kalo gak beli, nyesel kapan lagi bisa mendapatkan diskon gede-gedean. Tapi kalau beli nyesel juga, duit tabungan malah kepake. Atau setidaknya terjadi &#8220;perang batin&#8221; ketika sedang mempertimbangkan untuk beli atau tidak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Makanya saya punya rumus: Pay your God first, bayar hutang, saving, nah sisanya puas-puasin deh buat shopping. Percayalah, shopping-nya jadi lebih puas karena gak harus pusing-pusing untuk menyisakan uang. Iya kan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika konsep ini saya bawakan di twitter, masih juga ada yang bertanya: &#8220;bukankah sebaiknya kita menyiapkan untuk pensiun? Lalu bagaimana dengan dana cadangan? jadi gak usah nabung ya?&#8221; Dan berbagai pertanyaan sejenisnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Biar gak salah kaprah, yuk kita lihat kembali pernyataan mengenai cara menghabiskan uang.</p>
<p>Prioritas pertama adalah &#8220;Pay your God first&#8221; tentu artinya bukan membayar pada Allah, karena tidak Allah memerlukan apapun dari makhluknya. Yang saya maksud adalah membayar kewajiban yang diminta Allah SWT. Baik itu berupa zakat, maupun infaq dan sedekah yang bersifat sukarela.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prioritas pengeluaran kedua adalah, bayar hutang. Kenapa harus bayar hutang duluan sebelum yang lain? Karena risikonya besar kalau tertunda. Kena denda, kena bunga tambahan, dan lain-lain. Semakin ditunda, akan semakin besar lagi konsekuensinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Prioritas pengeluaran yang ketiga adalah untuk saving. Dari namanya saja sudah jelas, saving di sini maksudnya adalah menabung. Baik itu menabung untuk dana cadangan, ataupun investasi untuk masa depan seperti dana pensiun dan sebagainya. Asuransi pun saya masukkan di sini. Karena pos ini saya anggap sebagai keperluan di masa depan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan prioritas terakhir yaitu pengeluaran untuk shopping alias konsumsi. Mulai dari makanan, transport, dan sebagainya yang kita nikmati saat ini juga. Pengeluaran yang ini saya sarankan ambil dari sisanya saja setelah membayar zakat, setelah dipotong zakat, dan setelah menabung. Karena pengeluaran ini cenderung tidak ada batas maksimalnya. Kalau ada uang 1 juta, bisa habis untuk konsumsi saja. Kalau ada uangnya 10 juta bisa habis hanya untuk konsumsi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mungkin ada juga nyeletuk &#8220;Lho, kalo gitu sama aja dong… selama ini juga habis-habis aja kok, malah kadang kurang… Ya, paling urutannya aja yang beda. Biasanya belanja dulu, kalo ada sisa baru deh ditabung, kalo ditagih baru deh bayar hutang. Sedekah? Kalo inget….&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beda dong kalo gitu…!</p>
<p>Kenapa selama ini gagal menabung dengan rutin? Karena menunggu SISA. Dan seperti yang sudah saya katakan di atas, uang sulit sekali untuk bersisa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pengeluarannya mungkin sama saja, jumlahnya juga sama saja. Tapi mindset kita adalah MENGHABISKAN, bukan MENYISAKAN. Sehingga lebih mudah dan menyenangkan untuk dijalankan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Helvetica;">Jadi kesimpulannya adalah, mari kita HABISKAN uang kita di jalan yang benar dan menyenangkan. Bukan MENYISAKANNYA dgn sakit hati dan terpaksa.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadgozali.com/jangan-sisakan-penghasilan-habiskan-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyiasati “Hobi” Belanja</title>
		<link>http://ahmadgozali.com/menyiasati-hobi-belanja/</link>
		<comments>http://ahmadgozali.com/menyiasati-hobi-belanja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 11:33:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gozali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cashflow]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Finansial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadgozali.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Salah satu pertanyaan yang juga cukup sering masuk pada kami adalah mengenai kebiasaan belanja yang berlebihan. Sampai-sampai belanja disebut sebagai hobi, karena saking senang belanja. Biasanya, hal ini dilakukan secara impulsif atau tanpa perencanaan, keinginan ingin membeli timbul hanya karena melihat harganya sedang diskon, atau karena kemasannya menarik. Tidak jarang penyesalan pun muncul kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu pertanyaan yang juga cukup sering masuk pada kami adalah mengenai kebiasaan belanja yang berlebihan. Sampai-sampai belanja disebut sebagai hobi, karena saking senang belanja. Biasanya, hal ini dilakukan secara impulsif atau tanpa perencanaan, keinginan ingin membeli timbul hanya karena melihat harganya sedang diskon, atau karena kemasannya menarik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak jarang penyesalan pun muncul kemudian ketika sudah bisa berifkir raisonal kembali. Kenapa menghabiskan uang untuk beli ini atau itu yang ternyata tidak terlalu banyak juga manfaatnya di rumah. Atau ada juga yang baru sadar setelah melihat dereta baju yang belum pernah dipakai di lemarinya, buku-buku yang masih dibungkus plastik di rak buku, atau perlengkapan dapur yang masih dibungkus dalam kardus dan hanya dipakai sekali saja.</p>
<ol>
<li>
<div>Bedakan antara butuh dan ingin</div>
<p>Untuk membedakan benda mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan memang tidak sulit. Tapi yang lebih sering terjadi adalah keinginan yang menempel pada kebutuhan, sehingga kita anggap itu semua sebagai kebutuhan. Membeli sepatu baru mungkin menjadi kebutuhan ketika sepatu lama kita sudah using, tapi membeli sepatu bermerk tertentu bukan lagi kebutuhan tapi sudah menjadi keinginan.</li>
<li>
<div>Cash is the limit</div>
<p>Kenapa kita bisa memiliki kebiasaan belanja yang berlebihan? Ada dua sebabnya, pertama karena kita punya keinginan yang sulit dikendalikan ketika melihat barang-barang tertentu. Dan kedua, karena kita punya kesempatan untuk memenuhi keinginan tersebut. Yaitu kita punya uang atau sarana berhutang untuk membelinya.</p>
<p>Jadi, kalau kita masih kesulitan untuk membatasi keinginan, cobalah batasi kesempatannya. Batasi uang cash yang dibawa, biasakan untuk hanya membawa kartu debet saja ketika belanja, dan gunakan kartu kredit hanya untuk darurat saja.</li>
<li>
<div>Alihkan menjadi belanja produktif</div>
<p>Pada level tertentu, kepuasaan yang didapatkan ketika belanja berlebihan bukanlah kepuasan untuk memiliki sesuatu, tapi kepuasan karena bisa membeli sesuatu. Kepuasannya terjadi bukan ketika menggunakan barangnya, tapi ketika membelinya.</li>
</ol>
<p>Untuk bisa tetap memenuhi hasrat membeli tapi tidak menjadi boros, coba alihkan pembeliannya menjadi sesuatu yang lebih produktif atau tahan lama. Daripada membeli pakaian yang harganya jelas turun, lebih baik belanja perhiasan emas yang harganya stabil bahkan bisa naik. Daripada beli perlengkapan rumah yang ternyata juga sangat jarang dipakai, lebih baik beli reksadana, beli deposito, atau saham yang jelas bermanfaat untuk investasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadgozali.com/menyiasati-hobi-belanja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisnis 5 eMber</title>
		<link>http://ahmadgozali.com/bisnis-5-ember/</link>
		<comments>http://ahmadgozali.com/bisnis-5-ember/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 00:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gozali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Finansial]]></category>
		<category><![CDATA[hoax]]></category>
		<category><![CDATA[investasi piramida]]></category>
		<category><![CDATA[ponzi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadgozali.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Bisnis 5 eM adalah bisnis yang luar biasa. Bayangkan, hanya dengan modal sesendok, kita bisa dapat keuntungan sampai 5 eMber. Caranya mudah sekali, cukup dengan mendaftar dan menyetorkan biaya pendaftaran. Gak perlu merasa rugi, biayanya toh cuma sesendok saja. Jauh lebih murah daripada biaya listrik Anda sebulan. Kalaupun tidak berhasil, anggap saja beramal. Gak perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #0000ff;"><em>Bisnis 5 eM adalah bisnis yang luar biasa. Bayangkan, hanya dengan modal sesendok, kita bisa dapat keuntungan sampai 5 eMber.<br />
Caranya mudah sekali, cukup dengan mendaftar dan menyetorkan biaya pendaftaran. Gak perlu merasa rugi, biayanya toh cuma sesendok saja. Jauh lebih murah daripada biaya listrik Anda sebulan. Kalaupun tidak berhasil, anggap saja beramal.<br />
Gak perlu kerja keras lagi, gak usah pusing-pusing lagi, cukup dengan mencari 4 orang untuk bergabung dengan Anda dalam bisnis ini maka Anda akan mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Dengan mengikuti bisnis ini, Anda akan kaya, dan Anda akan membuat orang lain juga menjadi kaya. Luar biasa sekali bukan…?<br />
</em><br />
</span>Pernah mendapatkan tawaran seperti itu atau yang sejenisnya? Saya yakin sudah. Karena penawaran seperti ini sekarang ini luar biasa sekali bayaknya. Mulai dari yang tradisional dengan kertas fotokopian yang disebarkan atau ditaruh di bilik ATM, sampai pada yang modern yang diedarkan melalui imel di internet. Mulai dari yang murah meriah hanya lima puluh ribu rupiah, sampai yang cukup mahal beberapa juta rupiah.</p>
<p>Penawaran-penawaran “bisnis” seperti ini layaknya kita telaah lebih dulu sebelum tergiur untuk masuk ke dalamnya. Walau semenarik apapun tawaran dari mereka, prinsip dasar yang harus kita ingat adalah Halal-Berkah-Bertambah. Diantara berbagai penawaran investasi dan bisnis, ingat selalu untuk pilih hanya yang halal, diantara yang halal pilihlah yang paling banyak membawa manfaat untuk banyak orang (berkah), dan diantara yang halal dan berkah, barulah kita pilih mana yang keuntungannya paling besar.</p>
<p>Kalau sebaliknya kita cari dulu yang untungnya paling besar, baru kemudian kita pelajari apakah itu halal dan berkah, khawatirnya adalah kita akan terlanjur tergoda dengan iming-iming keuntungan yang besar. Padahal Al-Qur’an sudah dengan tegas menyebutkan “Tidaklah sama antara yang baik dengan yang buruk, walaupun yang buruk itu sangat menarik hatimu”.<br />
Saudaraku, saya ingin mengajak kita semua untuk menelaah kembali beberapa penawaran “bisnis” atau “investasi” yang akhir-akhir ini sangat marak, namun meresahkan. Saya beri tanda kutip karena tidak semua yang disebut bisnis atau investasi itu benar-benar layak disebut bisnis dan investasi. Saya sebut marak namun meresahkan karena kuantitas penawarannya sudah mulai mengganggu, dan isinya pun sudah mulai memasuki ranah pelanggaran hukum dan merugikan beberapa pihak tertentu.</p>
<p>Bisnis adalah kegiatan muamalah yang pada intinya adalah terjadi pertukaran atau jual beli, baik itu jual beli barang ataupun jasa/manfaat. Sedangkan investasi, bisa berupa penggabungan (syirkah) yang nantinya juga harus melibatkan proses jual-beli. Bisa dibilang kegiatan inti muamalah adalah terjadinya transaksi jual beli.</p>
<p>Nah, sekarang coba pelajari skema berikut ini:<br />
A merekrut B, C dan D agar mereka menjadi anggota dan membayar uang keanggotaan. Uang keanggotaan tersebut selajutnya dibagi-bagikan kepada A dan upline-nya. Jadi A mendapat bonus hanya karena merekrut saja. Lalu untuk apa B, C, D direkrut? Apa kepentingannya? Agar mereka juga bisa merekrut orang lain, yaitu E,F,G sampai Z. Lho… untuk apa lagi merekrut E sampai Z? agar mereka mau bayar biaya anggota untuk membayar bonus B, C, D serta A. Dan begitu seterusnya.</p>
<p>Dengan skema di atas, kapan dan dimana terjadi transaksi bisnis? Atas dasar apa A berhak menerima bonus alias uang pendaftaran B,C,D? Lalu bagaimana caranya B,C,D mendapatkan keuntungan? Mereka harus menarik lagi uang keanggotaan dari E sampai Z agar bisa dapat bonus juga yang diambil dari biaya keanggotaan member baru tersebut. Jelas sekali terlihat sama sekali tidak ada transaksi bisnis disini, yang ada adalah downline setor pada uplinenya, agar downline tersebut dapast bonus dia harus cari lagi downline, dan seterusnya. Sama sekali tidak ada transaksi bisnis…!</p>
<p>Skema seperti ini sering disebut sebagai skema pyramid, atau arisan berantai, atau money game, atau penamaan lainnya yang lebih canggih supaya tidak terkesan negatif. Saya sendiri menyebutnya sistem vampire alias Drakula. Vampire dan drakula menghisap darah dari korbannya agar bisa bertahan hidup, korban yang sudah dihisap darahnya otomatis akan menjadi drakula juga, sehingga ia harus mencari korban lain untuk dihisap juga darahnya. Korban berikutnya juga akan menjadi drakula dan harus mencari korban lagi agar ia bisa terus bertahan hidup. Sama persis kan dengan skema pyramid di atas?</p>
<p>Lho… itu kan sama saja dengan MLM! Begitu biasanya sanggahan yang datang dari para pelakunya. Ketahuilah, perbedaan system vampire dan MLM sangat berbeda jauh. System MLM yang benar memberikan bonus pada membernya berdasarkan hasil penjualan produk sebagaimana pedagang biasa. Agar bisa meningkatkan penjualan produk, member MLM mencari downline untuk dijadikan grupnya karena hasil penjualan bisa dihitung secara kolektif dengan anggota grupnya. Jadi jelas sekali, tujuan merekrut dalam MLM adalah untuk meningkatkan penjualan. Kalau member yang direkrut tidak menjual, maka tetap tidak bisa mendapatkan bonus, itulah MLM yang benar. Jadi intinya adalah tetap pada penjualan produk, bukan asal rekrut dapat bonus.</p>
<p>Bagaimana dengan system promosi Member Get Member, kan kita bisa dapat bonus hanya dengan mendaftarkan orang lain. Misalnya kita member klub fitness, kalau kita mengajak 2 orang teman kita maka kita akan mendapatkan bonus. Yang ini juga jelas beda, ketika sudah direkrut, 2 orang teman kita itu akan melakukan transaksi dengan klub fitness. Yaitu transaksi jasa penyewaan tempat fitness, ada transaksi bisnisnya. Iya kan?<br />
<em></em></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><em>Bisnis ini adalah solusi nyata untuk mengatasi kemiskinan bangsa. Karena siapa saja bisa bergabung. Bahkan tukang becak pun bisa mendapatkan keuntungan besar dan menjadi kaya tanpa perlu keahlian khusus. Ayo kita bantu sesama dengan saling bantu untuk mengentaskan kemiskinan.<br />
</em><br />
</span>Paragraph di atas atau yang sejenisnya biasanya tidak pernah absen dari penawaran skema vampire. Tentu saja dengan maksud supaya terkesan sebagai bisnis yang mulia. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, bisa dibilang ini adalah bentuk penyesatan yang sangat nyata. Memang betul seorang tukang becak bisa saja mendapatkan keuntungan besar dan menjadi kaya. Tapi jika semakin banyak orang yang ikut skema ini, maka malah akan ada lebih banyak orang yang rugi dibandingkan dengan yang untung. Karena keuntungan satu orang di atas didapat dari menarik uang dari beberapa orang di bawahnya. Jadi tiap ada 1 orang untung, artinya adalah beberapa orang rugi. Semakin banyak orang untung, maka akan ada semakin banyak lagi orang yang rugi.</p>
<p>Di negara-negara maju, skema ini sudah dilarang secara hukum. Namun sayangnya aturan hukum di Indonesia masih belum tegas dan rinci mengatur hal ini. Yang lebih disayangkan lagi adalah banyak diantara saudara-saudara kita yang tergiur dengan penawaran seperti ini. Awalnya memang hanya sebagai korban, tapi namanya juga vampir, kalau sudah jadi korban maka harus jadi pelaku juga agar tetap bisa survive.</p>
<p>Yang menyedihkan adalah, kadang hal ini terjadi tanpa disadari dan hanya sekedar ikut-ikutan saja dengan alasan tsiqah (percaya). Ini sangat berbahaya karena yang menawarkan dan yang ditawari sama-sama gak ngerti tapi asal ikut saja karena saking percayanya dengan yang mengajak. Satu hal yang ingin saya tekankan di sini. Bahwa percaya akan integritas seseorang itu bukan berarti kita ikut (taqlid) apapun yang dikatakannya. Karena kita bisa sangat percaya bahwa yang mengajak kita itu tidak akan pernah berbohong dan menjerumuskan saudaranya sendiri. Tapi apakah kita juga percaya bahwa dia betul-betul tahu apa yang sebetulnya dia tawarkan?</p>
<p>Jika seorang ustadz mengajak kita ikut dalam bisnisnya, apapun itu bisnisnya, kita harus percaya dan yakin bahwa dia tidak punya niatan jelek untuk menipu kita. Tapi untuk yakin bahwa dia bisa menjalankan bisnisnya secara professional sebagai seorang businessman, tentu itu urusan yang berbeda lagi.</p>
<p>Wallahu’alam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadgozali.com/bisnis-5-ember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cashflow for Women</title>
		<link>http://ahmadgozali.com/cashflow-for-women/</link>
		<comments>http://ahmadgozali.com/cashflow-for-women/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 00:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gozali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cashflow]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Finansial]]></category>
		<category><![CDATA[cashflow for woman]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadgozali.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Survey membuktikan, seorang istri lebih banyak berperan dalam keuangan keluarga daripada suami. Karena ternyata, seorang wanita bisa lebih ditel, teratur, dan teliti untuk mengorganisasikan pengeluaran sampai yang kecil-kecil sekalipun. Beda halnya dengan seorang laki-laki yang tidak terlalu memperhatikan detail dan kurang sensitif dengan harga, peran perempuan menjadi sangat besar dalam sebuah rumah tangga. Tapi sayangnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Survey membuktikan, seorang istri lebih banyak berperan dalam keuangan keluarga daripada suami. Karena ternyata, seorang wanita bisa lebih ditel, teratur, dan teliti untuk mengorganisasikan pengeluaran sampai yang kecil-kecil sekalipun. Beda halnya dengan seorang laki-laki yang tidak terlalu memperhatikan detail dan kurang sensitif dengan harga, peran perempuan menjadi sangat besar dalam sebuah rumah tangga.</p>
<p>Tapi sayangnya, peran seorang istri lebih banyak dalam hal kecil-kecil seperti belanja sehari-hari, pembayaran listrik, telepon dan sekolah anak. Tapi kalau urusan yang besar-besar seperti pembelian rumah, kendaraan, dan investasi, masih didominasi perannya oleh para suami. Kenapa hal ini terjadi? Karena wanita cenderung lebih konservatif dalam berinvestasi, tidak terlalu suka dengan investasi di sektor keuangan, lebih suka investasi berupa barang. Selain itu, wanita juga cenderung lebih stress ketika dihadapkan dengan masalah keuangan daripada laki-laki. Apa saja permasalahan yang sering dihadapi oleh seorang wanita dalam mengelola keuangan, dan bagaimana cara menghadapinya?</p>
<p>1. Lebih konservatif dan memilih investasi berwujud fisik</p>
<p>Dalam memilih investasi, kebanyakan wanita cenderung lebih suka investasi yang berwujud fisik seperti emas, rumah, tanah, dan sebagainya. Selain bisa dipegang kalau ada apa-apa, investasi seperti itu juga terasa lebih nyata dan bisa diawasi. Sebetulnya sih, hal ini lebih karena pengalaman saja. karena belum sering berinteraksi dengan investasi keuangan, maka investasi jenis ini dianggap lebih beresiko atau kurang aman. Untuk mengatasi hal ini, jangan sungkan untuk belajar mengenai jenis investasi keuangan yang ada di pasaran, dan mulai berinvestasi sedikit demi sedikit.</p>
<p>2. Mudah terpengaruh oleh anggapan orang lain</p>
<p><em>“investasi di sini untungnya gede banget lho…”, “aku sih lebih percaya sama asuransi yang itu…”, “ngapain beli itu, mending yang ini aja…”</em>. Kalimat-kalimat seperti itu yang keluar dari mulut seorang teman akan jauh lebih efektif untuk menarik minat seorang wanita daripada penjelasan logis dari seorang marketing. Rumor akan lebih menarik daripada berita, dan testimoni akan lebih menarik daripada iklan, itulah dunianya wanita.</p>
<p>Dalam dunia investasi, hal ini seringkali menjebak kita pada pengambilan keputusan yang salah. Karena yang namanya informasi dari mulut ke mulut, tentunya sudah mengalami distorsi, entah disengaja maupun tidak. Dan pemberi informasi belum tentu orang yang kredibel untuk menyampaikan informasi mengenai investasi atau keuangan. Memang betul teman kepercayaan kita tidak mungkin berbohong dan ia sangat kita percaya. Dia memang tidak mungkin bohong, tapi mungkinkah dia salah menangkap penjelasan orang lain, atau salah menjelaskan sesuatu hal yang bukan bidang keahliannya? Sangat mungkin. Oleh karena itu cek kembali semua informasi yang datangnya dari orang yang bukan ahlinya. Tanya langsung ke sumber informasi yang bisa dipercaya, dan mumpuni di bidangnya tentunya.</p>
<p>3. Cenderung lebih mudah stress terhadap masalah keuangan</p>
<p>Walaupun memiliki kelebihan dalam mengelola keuangan secara lebih ditel, ternyata seorang istri justru lebih mudah stress ketika menghadapi masalah keuangan dalam rumah tangga. Mungkin hal ini disebabkan karena istri lah yang berhadapan langsung dengan para pedagang, tetangga, penagih hutang dan anak-anak yang merasakan langsung dampak dari masalah keuangan. Sedangkan seorang suami cenderung “tinggal setor” saja dan ujung masalah ada di tangan istri.</p>
<p>Untuk keluar dari masalah ini jangan sungkan untuk berkomunikasi dengan suami. Karena salah satu penyebab kegagalan dalam mengelola keuangan bukan karena kecilnya penghasilan, tapi karena tidak adanya komunikasi antara suami dan istri.</p>
<p>Seringkali seorang istri enggan bercerita karena takut dianggap tidak bisa mengelola uang dengan baik. Padahal belum tentu seperti itu, karena suami tidak mengikuti perkembangan harga sembako, maka tidak ada salahnya “mengadukan” kenaikan harga pada suami.</p>
<p>Walaupun mungkin suami belum bisa memberikan solusinya saat itu juga, tapi dengan menceritakan permasalahan yang dihadapi, akan membuat seorang istri menjadi lebih tenang dalam menghadapi masalahnya.</p>
<p>Yang menjadikan masalah lebih besar lagi adalah, kalau pada suami tidak berani bercerita, tapi justru menceritakannya pada orang lain. Alhasil, pinjam uang dengan pesan <em>“jangan bilang-bilang suami saya ya….” </em>menjadi jalan keluar sementara yang menjebak pada pintu masalah berikutnya.</p>
<p>4. Sulit menolak tawaran dari teman/saudara</p>
<p>Seringkali saya temui kasus dimana seseorang membeli asuransi hanya karena agennya adalah saudara atau temannya baiknya sendiri. Dan kasus ini lebih sering terjadi pada wanita. Pertama, karena ternyata wanita punya kepedulian yang lebih besar akan dana pendidikan anak-anaknya di masa depan sehingga ingin memastikannya dengan asuransi. Dan alasan kedua, karena sulit untuk menjawab tidak pada seseorang yang punya hubungan dekat seperti teman atau saudara.</p>
<p>Dalam masalah keuangan, jadikan segalanya serasional mungkin, dan hindari keputusan yang emosional atau berdasarkan perasaan belaka. Karena kalau bicara angka, satu tambah satu seharusnya dua.</p>
<p>Lalu bagaimana caranya agar bisa menolak, atau mengambil keputusan dengan logika? Tipsnya sederhana saja, jangan pernah mengambil keputusan saat itu juga di hadapan seorang pemasar, siapapun dia. Minta waktu untuk berdikusi dengan suami, atau mempelajari 1-2 hari proposal yang diajukan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadgozali.com/cashflow-for-women/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 Sebab Gagalnya Pensiun Dini</title>
		<link>http://ahmadgozali.com/5-sebab-gagalnya-pensiun-dini/</link>
		<comments>http://ahmadgozali.com/5-sebab-gagalnya-pensiun-dini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 00:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gozali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pensiun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadgozali.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[1. Tidak memiliki rencana pensiun yang jelas Dalam pelatihan pensiun yang sering diadakan, saya selalu bertanya satu hal &#8220;apa rencana Anda sesudah pensiun?&#8221; Tentu saja rencana yang saya maksud di sini adalah rencana sumber penghasilan mereka sesudah pensiun. Hanya satu dua orang yang menjawab. Saya ulangi lagi pertanyannya &#8220;Apakah Anda memilih untuk bekerja kembali? membuka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. Tidak memiliki rencana pensiun yang jelas </p>
<p>Dalam pelatihan pensiun yang sering diadakan, saya selalu bertanya satu hal &#8220;apa rencana Anda sesudah pensiun?&#8221; Tentu saja rencana yang saya maksud di sini adalah rencana sumber penghasilan mereka sesudah pensiun. Hanya satu dua orang yang menjawab. </p>
<p>Saya ulangi lagi pertanyannya &#8220;Apakah Anda memilih untuk bekerja kembali? membuka usaha? atau menikmati hidup saja? tanpa bekerja dan buka usaha&#8221; Setelah diberikan 3 pilihan itu, juga belum semua peserta bisa menjawab pertanyaan tersebut.</p>
<p>Padahal, tidak pernah ada kata mendadak untuk yang namanya pensiun. Mereka yang pensiun secara normal tentu punya waktu puluhan tahun untuk mengambil keputusan ini. Mereka yang pensiun dini sukarela tentunya sudah punya alasan yang jelas, sehingga seharusnya juga punya rencana yang jelas. Bahkan mereka yang pensiun dini &#8220;terpaksa&#8221; pun punya waktu beberapa bulan atau setidaknya beberapa pekan untuk mengambil keputusan ini.</p>
<p>Tanpa rencana yang jelas, dengan uang pensiun diterima begitu besar, bayangkan apa yang terjadi…!</p>
<p>Itu dari segi penggunaan uang pensiun. Belum lagi dengan rencana hidup mereka yang lainnya. Darimana sumber penghasilan di masa pensiun nanti. Bagaimana mengatur kembali pola pengeluaran setelah berhenti kerja, dan sebagainya.</p>
<p>Karena tentunya setiap pilihan memiliki konsekuensi yang berbeda pula. Jika ingin bekerja kembali setelah pensiun dini, jelas pilihan investasinya berbeda dengan mereka yang berencana untuk tidak bekerja lagi. Begitu juga jika ingin membuka usaha, tentunya pemanfaatan uang pensiunnya akan berbeda, rencana cashflownya juga akan berbeda.</p>
<p>Satu hal lagi, jika Anda tidak memiliki rencana yang jelas, darimana sumber penghasilan setelah pensiun. Dan akan digunakan untuk apa dana pensiun yang diterima. Jangan kaget jika Anda nantinya akan kebingungan sendiri dengan banyaknya penawaran yang masuk. </p>
<p>Jangan keget jika tetangga yang tadinya hanya bertegur sapa nantinya jadi sering datang ke rumah. Saudara yang tadinya cuma sms seperlunya, jadi sering menelpon menanyakan kabar. Apalagi kalau bukan untuk meminjam uang, menarkan kerjasama modal, menjual barang, dan sebagainya.</p>
<p>Saya bukan bilang itu semua harus dihindari. Maksud saya adalah, kalau Anda tidak punya rencana sebelumnya, apalagi Anda sendiri juga &#8220;tidak tegaan&#8221; untuk menolak. Bukan tidak mungkin uang pensiun habis hanya untuk memenuhi berbagai proposal yang masuk.</p>
<p>2. Tidak menghitung biaya pensiun </p>
<p>Sebelum memutuskan untuk pensiun dini, apalagi yang dilakukan secara sukarela, tentunya sudah dijelaskan mengenai hak-hak yang akan diterima sebagai peeserta program pensiun. Baik itu uang pensiun lumpsum yang akan diterima, jamsostek, asuransi, dll. Sehingga sebetulnya kita bisa menghitung apakah kompensasi pensiun dini tersebut cukup atau tidak untuk bisa pensiun dini.</p>
<p>Tapi sayangnya, tidak semua orang menghitung biaya yang diperlukan untuk pensiun. Kalau sudah pensiun, pasti pengeluaran lebih kecil. Kan gak kerja lagi, gak makan siang di luar, gak keluar uang transport, dan seterusnya. Padahal, kalau kita mau lebih ditel memperhatikan, ada pengeluaran yang mungkin malah akan naik di masa pensiun. Biaya untuk hiburan, transportasi, telekomunikasi, biaya hobi, biaya kesehatan dan lainnya.</p>
<p>Dan selain itu, ada lagi yang sering dilupakan, yaitu kebutuhan besar seperti menikahkan anak, naik haji, dan sebagainya.</p>
<p>3. Masih menerapkan pola hidup lama</p>
<p>Jika kita melestarikan pola pikir selama bekerja dalam hal konsumerisme, percayalah… seberapa besar pun uang pensiun yang diterima, bisa habis seketika saja. Sebagai seorang karyawan, dengan gaji tetap dan pasti, tentunya memiliki &#8220;kekuasaan&#8221; untuk membeli, terutama di tanggal muda.</p>
<p>Di masa aktif, kita melihat TV 40&#8243; dengan pola pikir…. &#8220;Saya baru punya yg 21&#8243; di rumah dan yg 40&#8243; ini bisa dengan mudah dicicil.&#8221; Maka di masa pensiun, seharusnya pola pikirnya dirubah &#8220;Saya sudah punya 21&#8243;, maka saya tidak perlu lagi yg 40&#8243;.</p>
<p>4. Rongrongan keluarga</p>
<p>Suatu hari datang seorang klien yang akan segera pensiun dengan dana yang lumayan besar. Ketika ditanyakan apa saja tujuan keuangannya, dia pun menceritakan bahwa ia ingin agar ketiga anak lelakinya disediakan masing-masing sebuah rumah, sebuah mobil, pendidikan S2, serta biaya haji.</p>
<p>Kadangkala, bukan seorang anak manja dan minta ini itu dari orangtuanya tanpa peduli orangtuanya itu sudah pensiun atau masih berpenghasilan. Tapi kadang orangtuanya sendiri yang memanjakan anak-anaknya dengan fasilitas yang sebetulnya sudah selayaknya mereka usahakan sendiri karena mereka (seharusnya) sudah dewasa.</p>
<p>Dan jangan harap Anda bisa melepas anak-anak begitu saja begitu Anda pensiun jika pola asuhnya sejak kecil adalah anak diberikan semua, tanpa harus berusaha. Dengan dalih kasih sayang, memang berat bagi orangtua untuk mengajarkan disiplin keuangan pada anak-anaknya. Tapi satu hal yang pasti, Anda tidak akan selamanya ada untuk mereka. Maka Anda boleh memilih, untuk selalu menyuapi mereka ikan, menyediakan ikan dan biarkan mereka makan sendiri, berikan kail dan biarkan mereka mancing sendiri, atau berikan mereka pengetahuan untuk membuat kail dan mencari tempat ikan. Agar kapapun kail itu patah, mereka bisa membuatnya sendiri; kapanpun ikanya habis, mereka bisa mencari tempat lain yang masih banyak ikannya.</p>
<p>5. Musibah Keuangan</p>
<p>Sebaik-baik kita membuat rencana, serahkan hasilnya pada yang Maha Kuasa. Jika rencana A, ternyata hasilnya adalah B. Maka yakinlah bahwa B adalah yang terbaik untuk kita, pada saat itu. Dan usaha kita untuk A tidak akan pernah sia-sia. Namun sama sekali tidak ada salahnya juga untuk berusaha agar musibah tidak terjadi. Dan jikalaupun terjadi, maka dampaknya bisa kita minimalisir.</p>
<p>Secara perhitungan, risiko ini bisa kita antisipasi dengan asuransi. Ketika masih bekerja, antisipasi risiko sudah dilakukan oleh perusahaan. Mulai dari asuransi kesehatan untuk pekerja, maupun juga untuk keluarganya. Tapi begitu tidak lagi bekerja, jangan lupa bahwa kemungkinan itu juga tetap ada. Dan akibatnya bisa fatal secara finansial jika tidak diantisipasi.</p>
<p>Selain asuransi, ada cara lain yang tidak boleh ditinggalkan dalam manajemen risiko, yaitu sedekah. Karena sedekah bukan cuma mengantisipasi dampak dari musibah, tapi juga dapat mencegah musibah itu terjadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadgozali.com/5-sebab-gagalnya-pensiun-dini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Tingkatan Penghematan (Saving)</title>
		<link>http://ahmadgozali.com/3-tingkatan-penghematan-saving/</link>
		<comments>http://ahmadgozali.com/3-tingkatan-penghematan-saving/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 08:31:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gozali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cashflow]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Finansial]]></category>
		<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[cashflow]]></category>
		<category><![CDATA[saving]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadgozali.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Saving to Survive Pada tahapan awal, penghematan hanya dilakukan untuk bertahan saja agar tidak lebih buruk kondisi ekonominya jika tidak berhemat. Yaitu berhemat agar bisa membayar cicilan hutang, dan menyisihkan untuk dana cadangan. Jika pembayaran hutang tidak dilakukan, maka kondisi ekonomi akan semakin parah. Dan dengan kondisi yang seadanya, maka sangat diperlukan dana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>
<div><em>Saving to Survive<br />
</em></div>
<p>Pada tahapan awal, penghematan hanya dilakukan untuk bertahan saja agar tidak lebih buruk kondisi ekonominya jika tidak berhemat. Yaitu berhemat agar bisa membayar cicilan hutang, dan menyisihkan untuk dana cadangan. Jika pembayaran hutang tidak dilakukan, maka kondisi ekonomi akan semakin parah. Dan dengan kondisi yang seadanya, maka sangat diperlukan dana cadangan untuk antisipasi pengeluaran mendadak. Penghematan seperti ini bukanlah pilihan, tapi sebuah keharusan, bahkan keterpaksaan.</p>
<p>Karena terpaksa, maka penghematan yang dilakukan pun memiliki motivasi yang kuat, namun terbatas. Motivasinya kuat karena ingin terbebas dari hutang, atau setidaknya tidak ingin bermasalah dengan hutang. Namun motivasinya terbatas hanya sampai jumlah cicilanya saja, atau hanya terbatas sampai hutangnya lunas saja. Jika untuk membayar cicilan sudah ada, tidak perlu lagi menghemat lebih banyak. Jika hutang sudah lunas, tak perlu lagi berhemat-hemat.</p>
<p><img src="http://ahmadgozali.com/wp-content/uploads/2012/04/042312_1632_3TingkatanP1.png" alt="" align="left" />,</li>
<li>
<div><em>Saving to Spend<br />
</em></div>
<p>Pada tingkatan selanjutnya, saving atau penghematan dilakukan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tapi juga untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Menabung dan berinvestasi dengan tujuan agar bisa membeli rumah, membeli kendaraan, menyekolahkan anak, dan sebagainya. Caranya tentu dengan mengurangi pengeluaran sekarang, agar ada yang bisa dikumpulkan dan dikembangkan untuk dipakai memenuhi pengeluaran di masa depan.</p>
<p>Motivasi positif pada tahapan ini biasanya lebih kuat daripada motivasi negatif pada tahapan pertama tadi. Impian untuk memiliki rumah sendiri yang indah, impian untuk memiliki kendaraan idaman, impian untuk menyekolahkan anak pada sekolah terbaik adalah motivasi melakukan penghematan pada tahap ini.</p>
<p>&nbsp;</li>
<li>
<div><em>Spending to Save<br />
</em></div>
<p>Pada tahapan yang ketiga ini, melakukan penghematan bukanlah dengan cara mengurangi pengeluaran, tapi terkadang justru dilakukan dengan merogoh kocek lebih dalam. Yaitu dengan membeli sesuatu dengan harga yang lebih mahal, tapi memiliki dampak yang lebih ekonomis dalam jangka panjang. Tentu saja untuk sampai pada tahapan ini, harus sudah memiliki kemampuan terlebih dahulu untuk membelanjakan uang sehingga leluasa memilih pengeluaran yang paling ekonomis.</p>
<p>Misalnya rutin servis kendaraan, akan lebih hemat daripada servis ketika mogok. Memasang pemanas air surya jelas lebih mahal daripada gas/listrik, tapi tidak perlu lagi membayar setiap bulan. Perjalanan pesawat 1-2 jam jelas lebih mahal daripada bis 6-12 jam, namun sampai di tujuan lebih cepat dan tidak terlampau lelah untuk langsung beraktivitas.</p>
<p>Saving seperti ini terkadang tidak kelihatan sebagai penghematan dari kacamata orang lain. Bahkan kadang bisa disebut boros oleh orang yang tidak memahaminya.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadgozali.com/3-tingkatan-penghematan-saving/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Be Happy</title>
		<link>http://ahmadgozali.com/be-happy/</link>
		<comments>http://ahmadgozali.com/be-happy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 09:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gozali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cashflow]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Finansial]]></category>
		<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[cashflow]]></category>
		<category><![CDATA[happy]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[mindset]]></category>
		<category><![CDATA[rich]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadgozali.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Dalam pandangan masyarakat pada umumnya, termasuk kita sendiri, tidak bisa kita hindari anggapan bahwa semakin kaya seseorang pastilah ia akan semakin bahagia. Atau dengan kata lain, kekayaan bisa mendatangkan kebahagiaan. Tapi ternyata, anggapan itu tidak selalu benar, meskipun juga tidak bisa kita bilang salah. Ada beberapa penelitian yang menarik untuk bahas berkaitan dengan hal ini: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam pandangan masyarakat pada umumnya, termasuk kita sendiri, tidak bisa kita hindari anggapan bahwa semakin kaya seseorang pastilah ia akan semakin bahagia. Atau dengan kata lain, kekayaan bisa mendatangkan kebahagiaan. Tapi ternyata, anggapan itu tidak selalu benar, meskipun juga tidak bisa kita bilang salah. Ada beberapa penelitian yang menarik untuk bahas berkaitan dengan hal ini:</p>
<p>Penelitian dilakukan pada tahun 1957 di Amerika Serikat. Pada saat itu rata-rata penghasilan adalah 10.000USD dan kehidupan pada saat itu masih tanpa televisi, mesin cuci, atau perlengkapan rumah tangga yang canggih lainnya. 35% dari penduduk yang disurvey menyatakan bahwa kehidupan mereka pada saat itu “sangat bahagia”. Survey yang sama kemudian dilakukan pada tahun 2004 ketika rata-rata penghasilan penduduk Amerika sudah 3 kali lipatnya (inflasi telah disesuaikan) atau sekitar 30.000USD (dengan standar harga tahun 1957). Tentu saja pada tahun 2004 ini kehidupan mereka sudah lebih modern dengan rumah tangga rata-rata memiliki televisi, mesin cuci, dan perlengkapan rumah tangga lainnya. Tapi ketika ditanyakan mengenai kebahagiaan, ternyata ada 34% yang menjawab bahwa mereka merasa “sangat bahagia”. Penelitian di atas menunjukkan bahwa walaupun penghasilan sudah naik 3 kali lipat, tapi tingkat kebahagiaan tidak berubah. Bahkan sedikit turun.</p>
<p>Standar rata-rata penghasilan orang Amerika Serikat sekarang adalah sekitar 35.000USD, dari kalangan orang menengah ini diajukan pertanyaan “jika diukur dengan waktu, seberapa sering Anda merasa bahagia?” Ternyata mereka menjawab 62% dari waktu saya merasa bahagia.<br />
Pertanyaan yang sama kemudian diajukan kepada golongan orang terkaya di Amerika dengan penghasilan di atas 10juta USD atau 300 kali lipat dari kalangan menengah. Kalangan super kaya ini menjawab bahwa mereka merasa bahagia 77% dari waktu yang mereka miliki. Dengan perbedaan penghasilan 300 kali lipat, ternyata mereka memiliki tingkat kebahagiaan yang tidak terlalu jauh berbeda.</p>
<p>Sekarang kita lihat kalangan miskin dan sangat miskin di Amerika. Penduduk yang berpenghasilan di bawah 20.000USD (sangat miskin) ternyata memiliki peluang untuk meninggal dunia di usia muda 3,5 kali lebih besar daripada mereka yang memiliki penghasilan 70.000USD (miskin). Orang-orang miskin cenderung lebih berisiko terkena penyakit darah tinggi, depresi, dan penyakit jantung kronis. Tumbuh dalam lingkungan orang miskin dapat mengurangi aktivitas pada <em>left prefrontal cortex</em>, bagian otak yang memproduksi rasa senang, sehingga membuat kaum miskin lebih mudah terkena depresi yang kronis. <em>Broken family </em>juga lebih banyak terjadi pada keluarga miskin.</p>
<p>Dari ketiga penelitian itu menunjukkan bahwa hidup dalam kondisi miskin memang cenderung lebih sulit untuk merasa bahagia karena banyaknya permasalahan keuangan yang dihadapi. Semakin baik tingkat penghasilan seseorang, maka akan semakin besar juga peluangnya untuk merasa bahagia. Tapi, tingkat rasa bahagia ini semakin kecil bertambah jika sudah mencapati tingkat kekayaan tertentu. Begitu kita memiliki uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, tambahan lebih banyak kekayaan hanya menambah sedikit tambahan rasa bahagia daripada yang kita duga. Dalam kondisi di bawah rata-rata, penambahan kekayaan akan menambah rasa bahagia secara signifikan. Tapi dalam kondisi di atas rata-rata, penambahan kekayaan tidak lagi secara signifikan menambah rasa bahagia.</p>
<p>Tapi mari kita lihat penelitian lain untuk menunjukkan premis sebaliknya, bahwa ternyata kebahagian bisa membuat seseorang lebih kaya.</p>
<p>Pada tahun 1976, ribuan mahasiswa baru ditanyakan mengenai seberapa bahagianya mereka dengan skoring tertentu. 20 tahun kemudian, ketika mereka sudah masuk dunia kerja, kepada mereka ditanyakan berapakah penghasilan mereka sekarang. Ternyata, kelompok mahasiswa yang memiliki skor kebahagiaan tertinggi rata-rata memiliki penghasilan 31% lebih tinggi daripada kelompok mahasiswa yang memiliki skor kebahagiaan terendah.</p>
<p>Dalam penelitian yang berbeda, 300 karyawan dari 3 perusahaan yang berbeda di Amerika diteliti tingkat kebahagiaan dan peningkatan penghasilan mereka. Penelitian ini kemudian membuahkah kesimpulan bahwa semakin mereka merasa bahagia, semakin meningkat pula penghasilan mereka 18 bulan kemudian. CEO yang periang ternyata juga bisa meningkatkan kinerja dan produktivitas para karyawannya yang pada ujungnya meningkatkan profit perusahaan. Dan investor yang selalu menjaga mood-nya dalam keadaan baik walapun pernah merugi, mendapatkan keuntungan yang lebih besar dalam jangka panjang.</p>
<p>Penelitian ini membuktikan bahwa kebahagiaan seseorang cenderung membawa korelasi positif terhadap penghasilannya. <em>So, if you wanna be rich, be happy</em>. Dan ternyata, kebahagiaan adalah pilihan. Kita sendiri yang memilih untuk merasa bahagia atau tidak.</p>
<p>Kebahagiaan ini juga berhubungan dengan kesehatan. Wanita yang berbahagia cenderung memproduksi hormone stress lebih sedikit dalam tubuh mereka. Dan kondisi ini akan bertahan sepanjang hari. 1000 orang lansia di Belanda yang banyak tertawa, optimis dengan masa depan, berusaha mencapai target dalam hidupnya memiliki angka mortalitas 29% lebih rendah daripada mereka yang kurang optimis. Menjadi extrovert juga lebih sehat karena mereka yang santai dan terbuka memiliki kadar glycosylated hemoglobin yang lebih rendah dalam darah mereka sehingga lebih kecil terkena risiko penyakit diabetes dan penyakit lainnya yang berhubungan.</p>
<p>Mari kita berfikir terbalik. Bukannya mengejar harta agar bisa bahagia, tapi berbahagialah agar hidup kita tercukupi dan lebih sehat. <em>If you wanna be rich and healthy, be happy…!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadgozali.com/be-happy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakailah Kacamata Kuda</title>
		<link>http://ahmadgozali.com/pakailah-kacamata-kuda/</link>
		<comments>http://ahmadgozali.com/pakailah-kacamata-kuda/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 16:07:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gozali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cashflow]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Finansial]]></category>
		<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[cashflow]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan finansial]]></category>
		<category><![CDATA[mindset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadgozali.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Dia kan anaknya sedikit. Dia sih enak, pas pensiun anaknya udah besar-besar. Ah, kalau gaji udah sebesar itu sih bisa lah. Pantes aja, dia kan anak orang kaya. Kira-kira ungkapan seperti itulah yang sering kali diucapkan sebagai alasan ketika membandingkan kesuksesan finansial seseorang dengan diri kita sendiri. Berbagai indikator positif maupun negatif orang lain akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Dia kan anaknya sedikit.</p>
<p>Dia sih enak, pas pensiun anaknya udah besar-besar.</p>
<p>Ah, kalau gaji udah sebesar itu sih bisa lah.</p>
<p>Pantes aja, dia kan anak orang kaya.</p></blockquote>
<p>Kira-kira ungkapan seperti itulah yang sering kali diucapkan sebagai alasan ketika membandingkan kesuksesan finansial seseorang dengan diri kita sendiri. Berbagai indikator positif maupun negatif orang lain akan lebih mudah kita lihat, dan kita jadikan sebagai alasan ketika harus membandingkan dengan diri kita sendiri.</p>
<p>Itulah kenapa ada satu prinsip yang selalu saya tekankan dalam masalah keuangan pribadi, terlebih lagi pada setiap peserta pelatihan sebelum mereka mulai menuliskan cashflow mereka di kelas. Dalam masalah keuangan, &#8220;gunakan kacamata kuda&#8221;, kalimat itu selalu saya ulang pada mereka.</p>
<p>Kenapa kita menggunakan kaca mata kuda? apa maksudnya ?</p>
<p>Dalam pelatihan, dimana saya meminta setiap pasangan untuk menuliskan kondisi keuangan mereka. Mulai dari cashflow, neraca, asuransi, dan tujuan keuangan mereka. Tentu akan akan tercipta kondisi tidak nyaman dimana setiap peserta merasa canggung harus membuka &#8220;isi dompet&#8221; mereka di hadapan rekan-rekan kerja mereka sendiri. Maka kaca mata kuda disini maksudnya adalah tidak perlu tengok kanan-kiri, cukup lihat lembar kerja Anda sendiri saja.</p>
<p>Namun sebetulnya kaca mata kuda bermakna lebih dalam dari itu. Maksud saya adalah… ketika melihat kesuskesan seseorang, tidak perlu kita mencari-cari sebab atau alasan yang dimiliki oleh orang tersebut dan tidak kita miliki. Hanya untuk menunjukkan bahwa wajar saja dia berhasil dan saya tidak, karena dia punya itu dan saya tidak. Mulai dari besarnya gaji, banyaknya tanggungan nafkah, usia anak ketika pensiun, faktor warisan, dan sebagainya. Karena itu sama sekali bukan alasan kenapa kita tidak sukses.</p>
<p>Oleh karena itu, dalam urusan keuangan, pakailah kaca mata kuda. Tidak perlu tengok kanan kiri. Tidak perlu cari-cari alasan ini-itu. Masalah keuangan adalah antara diri kita, dan masa depan kita. Fokus lah pada diri kita, dan masa depan kita, seperti kuda yang hanya bisa melihat ke depan.</p>
<p>Tidak perlu juga kita kasak-kusuk cari-cari tahu bagaimana &#8220;isi kantong&#8221; orang lain. Apalagi sampai menggunjingkannya. Si ini beli mobil baru, si itu renovasi rumah, dan lainnya. Hal itu hanya akan membuang-buang waktu dan sama sekali tidak ada kebaikan pada diri kita sendiri. Ingat, pakailah kaca mata kuda. Agar kita bisa fokus pada pencapaian masa depan yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadgozali.com/pakailah-kacamata-kuda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumber Penghasilan di Masa Pensiun</title>
		<link>http://ahmadgozali.com/sumber-penghasilan-di-masa-pensiun/</link>
		<comments>http://ahmadgozali.com/sumber-penghasilan-di-masa-pensiun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 16:05:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gozali</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[dana pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[pensiun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahmadgozali.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Setelah memasuki usia 55 tahun, seorang karyawan mau tidak mau harus pensiun dari perusahaan tempatnya bekerja. Walaupun fisik masih kuat bekerja, dan masih punya semangat untuk mengabdi, tapi bagaimanapun juga aturan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena sudah tidak berstatus karyawan lagi, otomatis gaji pun sudah stop diterima. Lalu darimana seorang pensiunan mendapatkan sumber penghasilannya? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah memasuki usia 55 tahun, seorang karyawan mau tidak mau harus pensiun dari perusahaan tempatnya bekerja. Walaupun fisik masih kuat bekerja, dan masih punya semangat untuk mengabdi, tapi bagaimanapun juga aturan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena sudah tidak berstatus karyawan lagi, otomatis gaji pun sudah stop diterima. Lalu darimana seorang pensiunan mendapatkan sumber penghasilannya?</p>
<p>1. <strong>Mengandalkan Uang Pensiun Bulanan</strong></p>
<p>PNS atau pegawai BUMN biasanya sangat mengandalkan uang pensiun bulanan di masa pensiunnya. Bahkan bisa jadi ini adalah alasan utama untuk bekerja sebagai PNS atau bekerja di BUMN. Tapi bersiaplah untuk kecewa, karena jika hanya mengandalkan uang pensiun bulanan saja, maka penghasilan yang diterima akan kurang dari separuhnya dari penghasilan sebelum pensiun. Apalagi jika jabatan sudah tinggi, semakin kecil lagi penghasilan di masa pensiunnya jika dibandingkan dengan penghasilan ketika menjabat.</p>
<p><strong>2. Menghabiskan Uang Pensiun Lump-sum</strong></p>
<p>Bagi karyawan swasta, dengan program pensiun dari perusahaannya, tentunya boleh berharap bisa mendapatkan <em>golden shakehand </em>yang besar saat masuk masa pensiun. Memang sih, kalau dihitung dengan nilai rupiahnya tentunya sangat besar sekali dibandingkan dengan gaji yang diterima sebelumnya. Tapi survey kami menyatakan bahwa uang pensiun lump-sum diambil sedikit demi sedikit untuk biaya hidup di masa pensiun, maka dana ini akan habis dalam waktu 2 sampai 5 tahun saja. Belum lagi jika masih harus dipotong untuk pengeluaran besar seperti naik haji, menikahkan anak, atau pembelian besar yang didamkan saat masih bekerja. Pertanyaannya adalah, apakah kita hanya akan hidup 2 sampai 5 tahun saja setelah pensiun? </p>
<p><strong>3.&nbsp; Bekerja Kembali</strong></p>
<p>Menjadi dosen, konsultan, direksi, pengurus yayasan atau jabatan politis lainnya memang tidak dibatasi oleh usia pensiun seperti karyawan biasa di usia 55. Dan sah-sah saja punya impian untuk terus berkarya di usia senja. Tapi kalau pekerjaan di usia pensiun ini betul-betul mengharapkan imbalan materil, apalagi diandalkan sebagai untuk nafkah sehari-hari, rasanya ide tersebut harus difikir ulang. Karena kita tidak bisa menikmati saat pensiun jika begitu caranya. Bekerja kembali bukan karena pengabdian atau aktualisasi diri, tapi karena mengejar kompensasi materi, tentunya akan sangat melelahkan untuk fisik yang berusia di atas 55 tahun.</p>
<p>Sudah jelas bahwa ketiga alternatif penghasilan pensiun di atas, tidak ideal untuk dilakukan oleh seorang pensiunan. Lalu seperti sumber penghasilan yang ideal bagi seorang pensiunan? kita bahas pada posting berikutnya…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahmadgozali.com/sumber-penghasilan-di-masa-pensiun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

