Dalam berbagai kesempatan seminar dan talkshow, setelah menjelaskan bagaimana mengelola prinsip pengelolaan keuangan, hampir selalu ada saja pertanyaan seperti ini:
“Pak, bagaimana mengatur pengeluaran untuk yang penghasilannya tidak tetap?”
Padahal, menurut saya sih, apa yang saya jelaskan bisa dipraktekan oleh mereka yang berpenghasilan gaji tetap sebagai karyawan maupun mereka yang penghasilannya tidak tetap seperti pengusaha atau freelancer (agen, profesional, pekerja mandiri). Memang sih saya lebih sering menggunakan contoh mengatur gaji setiap bulan seperti saran saya untuk “Jangan Sisakan Gaji Anda…!” pada prinsipnya bisa diterapkan oleh mereka yang berpenghasilan tidak tetap.
Maka kemudian saya tanyakan “Memang apa bedanya sih kalau penghasilannya tetap dan tidak tetap?”
“Ya misalnya saja saya, penghasilannya bukan dari gaji tetap. Tapi dari jual jasa yang diterima harian atau mingguan. Jumlahnya juga gak tentu. Gimana dong ngaturnya?
Kalau untuk pengeluaran harian sih masih aman. Tapi kadang kebingunan ngatur uang bulanan seperti untuk bayar listrik, telepon, sewa rumah, uang sekolah anak dan lain-lain.”
Begitu curhat salah seorang peserta yang kebetulan adalah seorang freelancer.
“Jadi, karena uangnya diterima harian dan mingguan, bukan bulanan, maka Anda jadi kesulitan untuk membayar pengeluaran besar yang bulanan?” Saya tanyakan lagi untuk meyakinkan.
“Iya, betul. Kalau karyawan kan enak, terima gaji sekaligus dengan jumlah yang jelas. Begitu gajian langsung alokasikan untuk bayar zakat, bayar hutang, saving, tinggal sisanya aja dihabiskan seperti rumusnya mas Gozali. Lah kalu kita terima harian gimana dong? Jumlahnya kan gak tentu.”
Jawab si penanya meyakinkan saya bahwa yang menjadi masalah utama adalah uangnya diterima tidak menentu dan tidak sekaligus.
Saya pun balik bertanya “Oke, saya tantang begini deh… kalau dikasi pinjaman sebesar rata-rata penghasilan selama sebulan di awal bulan, tanpa bunga. Apakah lalu di bulan itu kondisi keuangannya jadi normal?”
Sambil nyengir ia pun menjawab “Eee… belum tentu juga sih!”
Nah, dari sini sebetulnya terbukti bahwa jumlah yang tidak tetap dan tidak sekaligus, bukan menjadi masalah dalam mengalokasikan bujet bulanan. Iya nggak?
Karena kalau memang itu masalahnya, maka seharusnya kalau bisa dikasi pinjaman (atau ngorek tabungan) sebesar rata-rata penghasilan sebulan, seharusnya di bulan ini pengeluarannya menjadi aman terkendali. Sedangkan penghasilan usaha yang diterima selama satu bulan ini dikumpulkan, lalu dijadikan sebagai “gaji” kita untuk bulan depan, maka di bulan depan pun jadi bisa memiliki penghasilan sekaligus untuk satu bulan, dan diterima sekaligus.
Tapi pada kenyataannya apa yang terjadi jika melakukan trik di atas? Oke biaya bulanan sudah dibayar dari pinjaman/ngorek tabungan, biaya harian sudah dialokasikan juga. Sampai sini aman… tapi…. begitu mendapat penghasilan apa yang terjadi? Ya, penghasilannya langsung terpakai untuk memenuhi pengeluaran juga di bulan itu. Jadi di bulan depan bagaimana? bermasalah lagi.
Nah, kalau itu yang terjadi, maka masalahnya bukan karena penghasilannya yang tidak pasti atau tidak sekaligus diterima. Itu sih masalahnya ada pada diri kita sendiri yang “tidak sabar” melihat uang mengalir setiap hari, padahal itu baru menjadi jatah kita di bulan depan. Sekali lagi, jangan salahkan penghasilan penghasilan Anda yang tidak diterima bulanan sekaligus, tapi tunjuk diri sendiri sebagai penanggungjawabnya agar mencari solusi, bukan mengkambinghitamkan penghasilan.
Terus bagaimana dong triknya agar dengan penghasilan yang tidak rutin bulanan bisa tetap mengelola keuangan dengan baik?
Oke kita bahas lebih lengkap di Cashflow for Freelancer bagian ke-2 ya…..
