Bang Kumis dan Akuntansi
| November 2, 2011 | Posted by gozali under Uncategorized |
Banyak diantara pengusaha yang masih belum punya sistem keuangan dan laporan keuangan. Alasannya sederhana saja, karena menganggap bahwa yang namanya laporan keuangan Cuma untuk tahu untung/rugi, sedangkan mereka (merasa) bisa tahu untung/ruginya tanpa perlu membuat laporan keuangan. Cukup dengan melihat isi “laci” dan menghitung berapa uang yang tersisa di sana, nah itulah yang namanya keuntungan.
Padahal, uang sisa saat toko di tutup, atau mutasi rekening di bank, bukanlah indikasi keuntungan dari sebuah usaha. Karena pada kenyataannya ada banyak transaksi yang tidak tunai, dan ada transaksi yang dilakukan sekaligus besar tapi berpengaruh selama beberapa periode perhitungan. Dan itu semua tentunya akan mempengaruhi laporan keuangan dari sebuh bisnis.
Contohnya saja warung baksonya bang Kumis yang sudah punya 4 cabang, sebelum subuh dia sudah belanja ke pasar untuk beli daging, mie, bumbu dan segala bahan untuk diolah dan didistribusikan ke keempat cabangnya setiap pagi. Siangnya warung itu beroperasi dibantu oleh 4 orang saudaranya dari kampung. Mengandalkan kejujuran mereka masing-masing, bang Kumis keliling tiap malam untuk mengambil setoran uang di laci dan mulai menghitung uangnya. Uang yang diterima di malam hari, dikurangi uang yang dipakai belanja tadi pagi, itulah keuntungannya. Rp 8,4 juta dikurangi Rp 4,7 juta, kalau begitu keuntungan hari ini Rp 3,7 juta. Tinggal dicatat di buku lusuh miliknya, lalu dijumlahkan selama sebulan, totalnya jadi Rp 87 juta bulan ini saja.
Besok semua karyawannya gajian, total gaji untuk 14 orang adalah Rp 18 juta, gaji untuk bang Kumis sendiri ditetapkan Rp 4 juta. Bayar listrik, biaya kebersihan, biaya keamanan dan preman, retribusi resmi dan tidak resmi, serta tetek bengek lainnya, semuanya jadi Rp 7,8 juta. Artinya, bulan ini bang Kumis bisa kipas-kipas keuntungan bersih Rp 57,2 juta. Begitu pikirnya. Eit, dia lupa… masih harus bayar hutang ke tukang minuman Rp 13 juta, tukang kerupuk Rp 2,4 juta. Ah, masih ada sisa Rp 41,8 juta, masih cukup tebal untuk kipas-kipasan.
Rupanya bang Kumis lupa, dia harus bayar sewa keempat kiosnya setahun sekali. Ia memodali tiap kiosnya dengan gerobak dan perlengkapan yang menurut pengalamanya bisa tahan sampai 5 tahun dan harus diganti sesudah itu. Dia juga belum menghitung kewajiban pajaknya karena sekarang dia sudah punya kartu kuning bertuliskan NPWP. Jadi, sebetulnya berapa sih keuntungan bang Kumis…?
Ah, daripada pusing-pusing makan bakso dulu ah semangkok… urusan itung-itungan nanti aja diterusinnya.
Bersambung…
Wah menarik nih. Kelola uang bisnis, teorinya jangan tercampur dengan uang rumah tangga, tapi prakteknya susah ya. Apalagi saya yang baru memulai bisnis.