Bang Kumis & Akuntansi (5)
| December 14, 2011 | Posted by admin under Cashflow |
“Gini bang, ini warung misalnya disewa Rp 12 juta setahun. Kalau Cuma ngitung duitnya doang, maka di awal tahun bang kumis bakal rugi karena nyatet pengeluaran buat sewa setahun. Sedangkan di bulan-bulan lain, dicatetnya untung karena gak harus bayar sewa.
Nah terus modal awal buat beli gerobak, alat-alat masak, kan belinya di awal doang. Kalau untung/rugi berdasarkan sisa duit doang, artinya pas awal buka rugi gede banget dong. Iya nggak?”
“Bener juga ya…” sambil terus memilin kumisnya.
“ngomong-ngomong bang kumis udah tau belum cabang mana yang paling menguntungkan? Produk apa yang paling besar untungnya? Karyawan mana yang paling produktif?”
“Ya tau lah. Cabang yang paling gede omsetnya, itu yang paling menguntungkan. Bakso lebih gede untungnya karena semua dibikin sendiri, mie ayam lebih sedikit untungnya karena harus beli mie. Karyawan paling produktif ya hapal lah, kan saya punya karyawan saya perhatiin semua.”
“Yang paling gede omsetnya, belum tentu yang paling gede untungnya lho bang.
Kalau tentang produktifitas karyawan, bisa aja bang Kumis nongkrongin terus ini warung tiap hari. Tapi gimana kalau bang kumis mau santai di rumah dan ini warung bakso empat-empatnya jalan dengan lancar. Bagaimana caranya supaya bisa kontrol gak ada yang curang jual bakso tapi duitnya gak dimasukin ke laci, beli daging tapi kwitansinya dimahalin? Kalau bang Kumis udah hapal itung-itungannya, pasti tau lah kalau ada yang curang. Tapi bagaimana kalau mau buka cabang franchise?
Maaf nih bang, gimana kalau bang kumis gak ada umur lagi. Apa anak-anak abang bisa langsung nerusin ini usaha. Bisa langsung tahu itung-itungannya?”
“Ini sih bukan Cuma buat bang Kumis, tapi juga buat semua pengusaha. Kita kan tentu inginnya usaha bisa berjalan terus tanpa kita selalu urusin. Iya nggak?” sontak semuanya mengangguk-angguk walupun tanpa dikomando.
“Bisa jadi kita pingin buka cabang, yang gak bisa kita awasin sendiri karena jauh atau kerjasama dengan orang lain. Atau sewaktu-waktu kita gak punya umur, tentu kita pingin anak-anak kita bisa nerusin bisnis tanpa harus banyak belajar lagi seperti kita dari awal sampai hapal segalanya.”
“Inilah perlunya kita punya sistem akuntasi. Mulai dari pembukuan yang bener, pelaporan keuangannya, sampai yang paling penting adalah analisa laporan keuangan itu supaya kita bisa evaluasi bisnis kita. Misalnya tadi dengan melihat trend penjualan, kinerja tiap karyawan, perputaran barang, perputaran hutang, menilai mana produk yang paling cepat laku dan paling menguntungkan. Bagaimana caranya supaya produk yang tidak laku bisa jadi laku, menentukan strategi promosi yang paling tepat, dan sebagainya.”
“Ya… ya… bener banget nih omongan anak muda. Tapi masalahnya, bagaimana caranya kita itung-itung yang begituan? Anak saya yang lagi kuliah akunting aja kebingungan” potong Haji Agus penasaran.
“Intinya sih kita buat sistem akuntasi. Tapi yang namanya sistem itu kan harus disesuaikan untuk setiap jenis usaha dan kondisi di lapangan seperti apa. Jadi ya, tiap bisnis harus kita rancang satu per satu sistemnya yang paling efektif untuk memajukan bisnisnya. Bengkel bang Poltak sama warung bakso bang Kumis jelas beda kebutuhannya. Apalagi kalau usahanya ritel seperti mas Yanto, atau yang pelanggannya tertentu seperti Salon dan usaha jasa lainnya.”
“Ngomong-ngomong anak muda ini siapa sih, terus bisa bantu kita-kita nggak nih biar bisnis kita makin canggih. Bukan cuma ngandelin feeling dan pengalaman aja. Tapi juga dikelola lebih bagus jadi hasilnya bisa lebih banyak dan kita pengusaha bisa pensiun juga”
“Eh, maaf bapak-bapak, saking asyiknya saya juga memperkenalkan diri. Kenalkan saya Ahmad Gozali. Silakan panggil saya Gozali. Kalau bapak-bapak memang berminat, silakan hubungi saya di nomor ini” jelas anak muda itu sambil membagikan kartu nama. Mohon maaf, sekarang saya harus pergi dulu, ada klien saya menunggu untuk dibantu bisnisnya. Jadi berapa nih bang Kumis? Bakso campur, minumnya 2, kerupuk 2.”
“Eh, kali ini gratis deh buat mas Gozali… anggap aja sebagai terima kasih kita udah dikasi pencerahan siang ini.”
“Oh gitu, wah saya jadi enak nih, terima kasih banyak bang Kumis. Tapi ngomong-ngomong, saya boleh bungkus nggak…? Mumpung gratis…”
Bisnis harus punya pencatatan yang rapih ya. Saya mulai besok deh. Terimakasih ya.
Kalau setahun lalu saya punya 100 gram, berapa ya keuntungan saya sekarang ” Setahun lalu harga emas 100 gr 36 juta.