Bang Kumis & Akuntansi (3)
| November 3, 2011 | Posted by gozali under Uncategorized |
Di warung bakso sudah ada beberapa orang yang berkumpul sambil menikmati bulatan daging kenyal dengan kuah panas bernama bakso. Mang Yana nampak lahap menikmati mie ayam bakso pesanannya, sementara bang Poltak lebih suka bakso rudal yang super besar dengan sambal yang super pedas. Seorang pemuda tak dikenal duduk diantara mereka dengan semangkok bakso campur, dan di pojok ada Mas Yanto menyeruput kuah bakso terakhir dari mangkoknya yang sudah tandas tak bersisa. Bagi Mas Yanto, pantang untuk mubazir, termasuk dalam hal makan bakso, tidak boleh ada yang disisakan. Mas Yanto ini adalah pengusaha sukses pemilik toko yang sudah punya 2 cabang. Istilah kerennya sih mini market sekarang, tapi mas Yanto lebih suka menamainya toko kelontong walaupun tidak jualan lontong.
Haji Agus pesan bakso urat dengan mie kuning campur toge dan menempatkan dirinya duduk di depan kawan-kawannya yang sedang asyik melahap bakso sambil sesekali menyeka keringat. Emang aneh orang Indonesia ini, kalau kerja maunya santai dan sebisa mungkin gak keluar keringat. Tapi kalau makan bakso, keringet sama kuah kok nyaris sama banyaknya ya. Apalagi bang Poltak yang pakai sambal super pedas, oli yang menempel di tangannya sampai luntur semua oleh keringat. Tapi itulah seninya makan, makin keringetan, makin mengundang selera.
Bang Kumis membuka obrolan dengan pertanyaan “Gimana bisnis pak Haji, lancar kan?”
“Penjualan sih bagus, tapi utang pada macet nih. Karyawan belum hapal mana yang pelanggan yang lancar, dan mana yang suka nunggak” jawab Haji Agus sambil menuang tambahan kecap di mangkok baksonya yang baru datang.
“Jangan ngomongin hutang dulu ah, pusing nih… salah strategi nih awak, pesan spare part kebanyakan, malah numpuk hutang. Mereka bilang ini fast moving, jadi pesan agak banyak gak apa-apa. Tapi nyatanya, sudah beberapa bulan numpuk juga di gudang” Bang Poltak ikut menimpali.
“Bukan cuma sampeyan, saya juga lagi pusing nih. Tau sendiri sekarang banyak mini market modern, hampir tiang gang ada saingan. Ruangannya AC, bersih, pelayannya cantik-cantik, makin turun nih omset”. Suara mas Yanto dari pojok ruangan ikut nimbrung diskusi.
“Bukannya ngajarin nih, tapi kemaren baru baca buku katanya kita bisnis jangan cuma ngandelin feeling dan semangat aja. Tapi kudu pake ilmu dan tehniknya supaya makin oke.” Terang bang Kumis sambil merapikan kumisnya.
Di tengah-tengah suapan bakso, Haji Agus kembali angkat suara “Anak saya juga bilang begitu bang, bisnis kudu pake akunting katanya. Padahal baru semester satu tuh anak, tapi udah bisa ngajarin bapaknya.”
“Terus udah jalan pak Haji? Soalnya saya juga bingung nih ngitung keuntungan. Saya kan tukang kredit, duitnya malah nombok terus. Sebetulnya saya untung apa rugi sih” kali ini giliran mang Yana bicara.
“Belum khatam semua sih ane jalanin. Pertama ane bikin deh catetan kas, tapi namanya bisnis banyak yang ngutang, akhirnya gak beres juga tuh catetannya. Kata anak ane kudu pake buku besar, ane beli dah buku yang paling gede di pasar, tapi tetep juga bingung itu buku mo diapain. Mana kudu bikin neraca macem-macem lagi. Ternyata dia sendiri masih bingung karena ilmunya belum khatam.”
“Saya sih udah beberapa bulan ini bikin catetan pak Haji, semua uang keluar-masuk dicatet, biar bisa ngitung keuntungan. Kan jadi gampang tuh ngitung zakatnya. Apalagi sekarang udah punya NPWP, siap-siap aja kalau disuruh bayar pajak juga.”
“Hari gini gak bayar pajak, apa kaya gayus….?!” Celoteh mang Yana yang membuat semua orang dalam ruangan itu sontak tertawa terbahak-bahak.
Mungkin lebih tepatnya hampir semua, karena ada seorang pemuda yang bermaksud tertawa di saat yang tidak tepat. Lelucon itu dilontarkan saat masih ada bakso dalam kunyahannya, bukannya tertawa, iapun malah tersedak karenanya.
“Tenang, tenang…. nih minum dulu…!” bang Kumis dengan sigap menyodorkan sebotol minuman dingin yang mereknya sudah barang tentu tidak perlu disebut di sini. “Makanya telen dulu baksonya, baru boleh ketawa”
Setelah beberapa sedotan, pemuda itu tak tahan juga untuk ikut nimbrung dalam diskusi para pengusaha ini. “Maaf nih, kalau boleh ikutan ngobrol. Sebetulnya, akunting memang sangat penting dalam bisnis kita, apapun jenis usahanya. Selain mengetahui untung/rugi pembayaran zakat dan pajak, laporan keuangan juga bisa menjadi alat evaluasi bisnis kalau diproses dan dianalisa dengan tepat.”
“Misalnya nih bang Poltak, kita bisa menentukan spare part mana yang masuk kategori fast moving dan slow moving dari laporan keuangan.”
“Bah, gimana caranya pula…?” bang Poltak penasaran.
” Kalau ada pencatatan yang baik, kita bisa tahu seberapa cepat perputaran barang di bengkel abang. Jadi kita bisa tahu mana yang masuk kategori fast moving dan slow moving. Kita juga bisa melihat trend penjualan, biar abang gak asal tebak bulan depan bakal lebih sepi atau lebih rame”
“Berarti bisa juga dong dipake di toko kelontong saya” samber mas Yanto sambi pindah kursi mendekat.
“Bisa juga. Karena toko serba ada kan jualannya kan banyak sekali jadi gak mungkin bisa kita hapal. Kita bisa tentukan mana produk yang cepat laku, mana yang kurang laku, mana yang untungnya paling besar, mana yang untungnya paling kecil” jelas pemuda tadi.
“Kalau yang paling untung yang mana sih aku udah tau, kan ketauan dari marginnya” sergah mas Yanto.
“Marjin paling besar, belum tentu juga dia paling untung lho. Kita harus kalikan juga dengan kuantitas yang terjual. Apalagi kalau barang yang cepat kadaluarsa, harus kita kurangi juga dengan kerugian kalau menyimpan terlalu banyak”
“Nah, mengenai barang kadaluarsa ini, pusing juga aku. Gimana dong caranya supaya kita tahu berapa yang harus kita stok biar barang gak cepet abis, pelanggan gak kecewa, tapi juga jangan sampe kebanyakan ampe busuk. Bisa dihitung?”
“Bisa banget, bahkan lebih dari itu. Kita kan bisa melihat tren penjualan per item barang dari catatan yang kita miliki. Kita perhitungankan berapa lama rata-rata perputaran barang itu, berapa marjinnya, berapa ukuran dan beratnya untuk proses penggudangan. Jadi kita bisa tentukan barang apa yang harus kita simpan di gudang dan berapa banyak, dan barang apa yang sebaiknya tidak perlu gudang dan bisa langsung pesan begitu stoknya menipis di display.
“Transaksi penjualannya udah pake komputer kan mas?”
“Udah, tapi ya selama ini cuma buat nyatet untung ruginya doang”
” sayang sekali punya sistem pencatatan tapi belum dioptimalkan. Padahal kalau kita punya catatan lengkap, itu bisa jadi sarana evaluasi bisnis kita. Buat ngitung yang tadi itu”
“kalau buat usaha konveksi saya gimana?” haji Agus gak mau ketinggalan
“Bentar pak Haji, sayang nih baksonya satu lagi. Saya abisin dulu ya…” jawab pemuda tadi sambil kembali menyuap bulatan daging kenyal terakhir yang ada di mangkoknya.
Bersambung…
Makin ingin lanjut nih ke seri no 4 ya. Terimakasih ya atas infonya.