Bang Kumis & Akuntansi (2)
| November 2, 2011 | Posted by gozali under Uncategorized |
Sambil nunggu bang Kumis yang sedang asyik melahap bakso buatannya sendiri, kita beralih dulu ke mang Yana si tukang kredit keliling. Tak habis pikir mang Yana dengan struk ATM yang baru saja dicetaknya, saldonya malah berkurang dibandingkan bulan lalu padahal usahanya lancar-lancar saja kok. Sambil naik motor, dia pun berhitung di luar kepala. Total setoran masuk bulan ini sekitar 14 juta, lalu dia belanja TV 2 unit, blender, kipas angin 3, magic jar 4, magic com 2, kulkas, mesin cuci… semuanya jadi…. Wah, 15 juta lebih. Pantesan aja bulan ini tekor.
Setoran pelanggan lancar, yang beli juga tambah banyak, duit malah berkurang. Jadi, sebenernya saya untung berapa ya…? Baru saja mang Yana mau garuk-garuk kepala, tapi ternyata yang dia garuk malah helm. Aih, lupa lagi naek motor euy, gumamnya dalam hati. Minggir dulu ah, kebeneran ada warung bakso di depan.
Sementara di seberang jalan, ada sebuah bengkel motor milik Bang Poltak yang nampaknya maju pesat. Eit, jangan salah dulu, bukan bisnisnya yang maju, tapi bangunannya yang maju ke pinggir jalan. Walaupun banguna permanennnya agak jauh dari jalan raya, tapi perlengkapan bengkel, kompresor, dan motor yang terparkir sampai maju beberapa meter ke depan. Bangunannya aja yang maju, kalau bisnisnya sih kayanya lagi mundur, tuh buktinya bang Poltak sedang pusing tujuh keliling dengan tagihan spare part yang baru saja datang.
2 bulan lalu banyak motor masuk bengkel, maka bulan lalu pun dia pesan spare part lebih banyak, keuntungan lebih besar pun sudah dibayangkan di depan mata karena bisa dapat diskon lebih besar dengan pesan lebih banyak. Tapi apa daya, ternyata bulan ini malah lebih sepi dari biasanya. Spare part numpuk di gudang, padahal pelanggan tak kunjung datang.
Kalau baca buku teori perbengkelan, seharusnya tidak usah pesan terlalu banyak untuk barang yang slow moving, kalau nambah inventory tambahlah yang fast moving. Tapi masalahnya adalah, yang mana yang termasuk barang slow moving, dan mana yang fast moving. Soalnya buku itu bilang, gak semua bengkel punya kategori barang yang sama untuk fast dan slow moving.
Rupanya nasib bang Poltak gak jauh beda dengan Haji Agus yang punya konveksi di sebelahnya. Kedua pengusaha ini sama-sama pusing mikirin hutang. Ya… gak sama persis sih, ada bedanya dikit. Bedanya adalah, kalau bang Poltak pusing mikirin hutang yang harus dia bayar, Haji Agus malah pusing mikirin hutang yang harus dia tagih.
Kalau pelanggan besar sih udah hapal mana yang pembayarannya bagus, dan mana yang kadang terlambat. Makanya ditetapkan batasan yang lebih ketat untuk yang suka telat, sedangkan untuk yang selalu bayar tepat waktu, ia tidak segan-segan memberikan plafond hutang yang lebih besar. Tapi masalahnya, makin hari pelanggannya makin banyak, tidak semua bisa dihapalnya dengan baik. Hutangnya sih gak terlalu besar, tapi kalau banyak yang bermasalah kan totalnya jadi besar juga. Apalagi akhir-akhir ini Haji Agus harus lebih sering ke luar kota untuk survey design-design baru di pasaran. Bagaimana cara anak buahnya bisa kontrol hutang kalau dia sendiri saja kadang keteteran. Urusan hutang emang bikin lapar, Haji Agus pun beranjak dari kursinya menuju warung bakso bang Kumis.
Bersambung ke bagian 3…
Iya nih, lihat problema para pemilik bisnis di atas jadi ikutan pusing ya. Harus terus baca seri yang berikutnya nih. Terimakasih ya, Pak